PERBANDINGAN PERPEKTIF TRADISI KOMUNIKASI ROBERT T CRAIG DAN  KATHERINE MILLER

Dalam memahami ilmu komunikasi kita membutuhkan  “teropong”  (perspektif) yang dapat menuntun kita pada pengertian / pengetahuan tentang definisi, ruang lingkup, objek kajian, konseptualisasi teori, paradigma . Perspektif secara sederhana dapat dikatakan sebagai titik pandang, yang didalamnya terdapati pengertian/konsepsi, bangunan asumsi, yang digunakan dalam memahami suatu objek. Menurut Miller (2005) perspektif adalah sebagai cara atau metode untuk melihat  atau mengamat berbagai fenomena/keadaan/ situasi disekeliling kita. Dengan demikian perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi atau keyakinan tentang sesuatu hal.  Perspektif akan menentukan bagaimana kita memahami bagaimana tindakan kita pada  sebuah konteks komunikasi tertentu

Griffin melihat terminologi perspektif mempunyai padanan kata (sinonim) dengan kata standpoint, viewpoint, outlook, dan position.  Semua kata ini mengarahkan pada sebuah lokasi khusus dalam ruang dan waktu dimana pengamatan dilakukan dengan mengacu pada nilai-nilai atau sikap-sikap tertentu; sebuah tempat dalam ruang dan waktu untuk memandang dunia di sekitar kita (Griffin, 2003, 247)

PERSPEKTIF TRADISI ROBERT T CRAIG

Tradisi Teori komunikasi yang sekarang banyak dirujuk oleh para ilmuwan komunikasi dan berbagai studi ilmu komunikasi di Indonesia adalah Robert T Craig (1999) Craig berpendapat bahwa bidang komunikasi dengan berbagai pendekatannya tidak akan pernah bisa disatukan dengan suatu unified theories karena teori-teori tersebut akan selalu merefleksikan perbedaan ide-ide praktis tentang komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.  Craig menyarankan dua persyaratan untuk mencapai “kesatuan” dalam bidang komunikasi, yaitu-. (1) a common under-standing of similarities and differences among the many communication theories (the need to have a metomodel); dan (2) a new definition of theory which regards theory as a form of discourse; as a statement of argument in favor of a particular approach (the need to have a metadiscourse).12

Craig menyatakan bahwa karena setiap teori komunikasi sebenarnya mencoba melihat praktek-praktek komunikasi (practical aspects of communication in everyday life), dibutuhkan dialog-dialog di dalam bidang komunikasi tintuk membantu kita agar dapat lebih berfokus melihat apa dan bagaimana teori tertentu melihat dunia sosial di mana orang-orang hidup. Dialog-dialog dalam bidang kajian ilmu komunikasi yang sangat luas itu lantas dikelompokkan oleh Craig menjadi tujuh tradisi . Robert T. Craig menyusun teori-teori komunikasi berdasarkan tradisi pengkajian. Pengurutan tradisi dari Craig ini cenderung melihat lahir atau munculnya teori-teori komunikasi, yang diawali tradisi retorika sampai pada tradisi kritis. Retorika dipandang sebagai proses awal dari kajian komunikasi yaitu pada zaman Yunani,

  1. The Rhetorical Tradition

Teori-teori dalam tradisi ini melihat komunikasi sebagai suatu seni praktek. Komunikator seperti pembicara, produser media dan penulis merasakan suatu masalah atau perubahan yang perlu dilakukan melalui pesan-pesan yang dirancang secara hati-hati. Dalam tradisi ini, komunikator mengembangkan suatu strategi, seringkali menggunakan pendekatan-pendekatan umum untuk menggerakkan audience. Daya tarik rasional dan emosional merupakan ciri dalam teori-teori retorika. Tradisi ini melihat pekerjaan komunikator dikembangkan dengan seni dan metode. Oleh karenanya, kata-kata adalah kekuatan, informasi berguna untuk membuat penilaian dan komunikasi dapat dievaluasi dan dirubah. Komunikasi sebagai suatu practical art, dimana kegiatan-kegiatan seorang komunikator dibangun oleh seni dan metode-medote – the art of speaking

 

  1. 2.      The Semiotic Tradition

Berfokus pada signs dan symbols - komunikasi sebagai suatu “jembatan” yang menghubungkan dunia-dunia privat individu, dimana proses pertukaran tanda-tanda yang mempunyai meanings dapat dimungkinkan.

Tradisi ini memfokuskan pada tanda-tanda dan symbol-simbol, memperlakukan komunikasi sebagai jembatan antara dunia pribadi individu. Dengan kata lain, tradisi ini menekankan komunikasi sebagai proses sharing meaning melalui tanda-tanda. Teori-teori semiotik seringkali merupakan oposisi dari teori-teori yang menyatakan bahwa kata-kata memiliki makna yang sama atau bahasa adalah netral.

  1. 3.      The Phenomenological Tradition

Tradisi ini berkonsentrasi pada pengalaman pribadi manusia – komunikasi dilihat sebagai pertukaran pengalaman-pengalaman personal antar individu melalui dialog.

Tradisi ini mengkhususkan pada pengalaman personal, termasuk bagaimana pengalaman individu dengan individu lainnya. Komunikasi dilihat sebagai suatu sharing pengalaman pribadi melalui dialog.

  1. 4.      The Cybernetic Tradition

Komunikasi dilihat sebagai suatu information processing dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan noise, overload dan malfunctions.

Tradisi ini memandang komunikasi sebagai proses informasi dan masalah-masalah komunikasi ditempatkan yang berkaitan dengan noise, overload dan malfunction. Tradisi ini akan lebih banyak membahas tentang pengirim (sender), penerima (receiver), informasi, feedback, ketidakpastian (redundancy) dan sistem.

  1. 5.      The Sociopsychological Tradition

Melihat aspek-aspek komunikasi terutama expressions, interactions, dan influence. Teori-teori pada tradisi ini terutama menekankan pada aspek-aspek komunikasi yang meliputi ekspresi, interaksi dan pengaruh. Wacana dalam tradisi ini menekankan pada perilaku, variable, efek, sifat dan kepribadian, persepsi, kognisi, sikap dan interaksi. Tradisi psikologi sosial ini menggunakan pendekatan ilmiah atau objektif dalam mencermati fenomena komunikasi, Karakteristik tradisi ini, antara lain: (1) mempunyai keyakinan bahwa ada kebenaran-kebenaran komunikasi yang dapat ditemukan melalui observasi yang hati-hati dan sistematis; (2) berusaha mencari hukum universal hubungan sebab-akibat yang bisa memprediksi keberhasilan ataupun kegagalan perilaku komunikasi; dan (3) menjauhkan diri dari bias subjektif pandangan personal.

  1. 6.      The Sociocultural Tradition

Tradisi ini mendasarkan diri pada premis karena orang-orang berbicara, maka mereka menciptakan dan menghasilkan kebudayaan.  Dunia ini mencerminkan apa yang ada secara aktual, meskipun proses menuju ke sana seringkali menggunakan jalan yang berbeda.  Realitas yang kita hadapi ini dibentuk dengan bahasa yang kita gunakan sejak kita masih bayi. Tradisi ini melihat komunikasi sebagai perekat masyarakat. Dalam tradisi ini masalah-masalah komunikasi dimasukkan dalam konflik, alienasi dan kegagalan untuk mengkordinasi. Para ilmuan yang ada dalam tradisi ini akan menggunakan bahasa sebagai unsur masyarakat, struktur, ritual dan budaya.

  1. 7.      The Critical Tradition

Komunikasi sebagai social arrangements of power and oppression. Teori-teori dalam tradisi ini cenderung melihat komunikasi sebagai rangkaian kekuatan dan tekanan sosial. Teori-teori kritis merespon masalah-masalah yang berkaitan dengan ideologi, kekuasaan dan dominasi.

Istilah teori kritis berasal dari tradisi “Pemikiran Frankfuft” (Frankfurt Schooo sebagai bagian dari Institute Social Research Universitas Frankfurt.  Kelompok pemikiran ini pada awalnya bertujuan untuk menguji gagasan-gagasan Karl Marx dengan menolak aspek ekonomi determinismenya dan mengajukan kritik sosial dalam tradisi Marxian.

  Peneliti dari Pemikiran Frankfuft ini menawarkan analisis yang kuat mengenai kesenjangan antara nilai-nilai liberal dari kebebasan dan ketidaksamaan yang dinyatakan oleh para pemimpin, dan konsentrasi ketidakadilan dan pelecehan kekuasaan yang telah membuat nilai-nilai itu menjadi sebuah mitos.

Tradisi kritis ini mempunyai beberapa tantangan pada masyarakat kontemporer, antara lain terhadap: (1) kontrol bahasa untuk mengabadikan ketidakseimbangan kekuasaan; (2) peran media massa yang menumpulkan kepekaan pada penindasan; dan (3) kebutaan yang didasarkan pada metoda dan penerimaan tidak kritis terhadap temuan-temuan empiris.

 

Berdasarkan tradisi Craig tersebut, Griffin  (2003) menggunakannya sebagai panduan esensial dalam mengelompokkan berbagai teori komunikasi yang ada (sebanyak 33 teori)  Berbagai teori komunikasi tersebut oleh Griffin dipetakan sebagaimana bisa dijelaskan pada tabel berikut ini

 

Berdasarkan pada pemetaan teori dari Craig, dapat diperoleh analog mengenai berbagai macam teori dengan tradisi yang melingkupinya. Sebuah teori dalam konteks komunikasi tidak hanya dapat dilihat dari satu tradisi, namun dapat dilihat dalam tradisi yang berbeda. Ketujuh tradisi tersebut juga mungkin tidak mencakup semua pendekatan ilmu komunikasi yang ada, namun dimungkinkan pula terjadinya percampuran antar tradisi.

 

Perspektif Khaterine Miller

Miller membagi perspektif teori komunikasi dengan menggunakan istilah / terma paradigma yang meliputi positivistik, intepretif dan Kritis (Miller Chap. 3 – 5).  Dalam kajian substantif teoritis kemudian Miller dalam Communication Tehories Chapter 3 -5,  mengelompokan teori komunikasi ke dalam 3 perpspektif atau paradigma yaitu Postpositivsm, Intepretive dan Critical (Miller 2005 )

 

1. Post-Positvism

Positivisme (ontologi realis; epistemologi objektif; aksiologi bebas-nilai) ditolak & digantikan dengan bentuk bentuk penelitian yg memberi tekanan pada nominalisme; subjektivisme; momot-nilai (interpretif & kritis)

 

2. Perpektif Intepretive

Teori interpretatif  bukanlah teori monolitis yang menunjukkan satu kerangka kerja yang utuh. Di isini hanya diungkap tren umum saja dengan melacak dimensi epistimologis, ontologis dan aksiologisnya. Secara ontologis, kaum interpretatatif berpegang pada “realitas ada dalam bentuk  konstruksi mental yang beragam baik secara sosial maupun pengalaman, lokal dan spesifik, bergantung pada bentuk dan isinya pada orang yang meyakininya. Posisi ontologis kaum nominalis dan konstruksionis sosial punya implikasi penting. Pertama, realitas itu kompleks dan beragam. Kedua, realitas sosial dipahami dan ditentukan berdasarkan actor social. Ketiga, realitas social tak bias dipahamai kecuali lewat proses sosial dan mental yang terus-menerus mengonstruksi realitas. Epistimoplogi interpretative membela epistimologi subyektif.

3. Perspektif Kritis

Perspektif kritis memiliki akar pengaruh Idealisme Jerman (Immanuel Kant) Pengaruhi riset sosial melalui asumsi sentral bhw manusia terikat dlm proses interpretif untuk memahamimi dunia sosial. KemudianGeorg Wilhelm Hegel (1770-1831) mengembangkan pemikiran Kantian ke arah beda dengan tekanan pad hubungan dialektikal antara pengalaman subjektif individual  & dunia luar & tekanan inheren dalam  hubungan tersebut . Selanjutnya oleh Karl Marx  yang Dipengaruhi Hegel — menekankan pengalaman subjektif internal & dunia eksternal & sejarah pada tekanan tersebut Marx memulai konsepsinya dengan premis bahwa manusia tealah teraleniasi. Dunia eksternal diciptakan secara manusiawi & direifikasi & dibuat menjadi objektif & eksternal pada subjektif individual.  Individu teralineasi ketika tatanan sosial diasumsikan mengambil kebebasan intensi intensi dan kebutuhan-keebutuhan kehidupan manusia.  Masyarakat mengontrol kehidupan manusia

 

 

Perspektif kritis memiliki asumsi

  • • Melihat ilmu sosial sebagai proses yang secara kritis bermaksud mengungkapkan  realitas/struktur riil dibalik ilusi, kesadaran semu dari dunia materi.
  • • Bertujuan membentuk kesadaran sosial untuk mengubah dan memperbaiki kondisi kehidupan manusia atas dasar kesadaran subyektif.
  • • Berupaya mengubah kondisi sosial yang ada- yang telah mendominasi realitas sosial-pikiran masyarakat.

 

Tiga Paradigma Teori Komunikasi dari Miller juga memberikan asumsi pada kajian dari teori-teori komunikasi dengan implikasi metode peneltiannya seperti dalam tabel di bawah ini:

 

Teori

Perspektif

Metoda
Post Postivistik intepretif kritis
Attribution theory

X

Objective

Narrative theory

X

Objective

Dramatism

X

Objective

Constructivist theory

X

Objective

Action-asembly theory

X

Objective

Cognitive Dissonance theory

X

Objective

Theory of Reasoned Action

X

Objective

Social Judgment theory

X

Objective

Elaboration Likelihood  Model

X

Objective

The Heuristic-Systematic Model  

X

Objective

Inoculation Theory  

X

Objective

Speech Ach Theory

x

Subjectif

Problematic Integration Theory 

X

Objective

Coordinated Management of Meaning Theory  

X

Subyektif

Communication Accommodation Theory  

X

Objective

 Expectancy Violation Theory  

X

Objective

Interaction Adaptation Theory  

X

Objective

Social Penetration Theory  

X

Objective

Uncertainty Reduction Theory  

X

Objective

Relational System Theory  

X

Objective

Theories of Relational Dialectics  

X

Objective

 

Perspektif Miller memberikan gambaran mengenai telaah tentang paradigma dalam teori komunikasi. Paradigma Paradigma ilmiah merupakan keseluruhan sistem pemikiran yang terdiri dari asumsi-asumsi dasar, pertanyaan-pertanyaan penting untuk dijawab atau teka-teki untuk dipecahkan, dan teknik-teknik penelitian yang digunakan, serta contoh-contoh penelitian ilmiah yang baik. Berbeda denganMiller, maka tradisi komunikasi Craig  menawarkan cara melihat dan merefleksikan kajian komunikasi dalam cara yang Holistik (Littlejohn, 2008, 52) Meta model dari Craig memberikan bentuk yang dapat membantu kita dalam mendefinisikan permasalahan  dan pembahasan tentang asusmsi yang menentukan pendekatan terhadap teori.

Perspektif baik dari model Paradigma Miller maupun tradisi yang ditawarkan Craig, tersebut jelas mempunyai implilkasi yang berbeda dalam melihat realitas, melihat hubungan realitas teori dengan perspektif atau tradisi yang digunakan atau hubungan antara peneliti dengan realitas yang diteliti, nilai-nilai peneliti, dan metodologi.  Artinya, bagaimana seorang ilmuwan atau peneliti memberi definisi terhadap suatu realitas atau fenomena, serta teori untuk menjelaskan fenomena atau realitas yang ditelitinya tersebut akan sangat ditentukan oleh pilihan perspektifnya, apakah yang condong ke arah objektif ataukah lebih condong ke arah subjektif.

 

Referensi Bacaan

Aspikom, 2011, Mix Methodology Dalam Penelitian Komunikasi, Buku Litera, Jogyakarta

Griffin, Em. 2003.  A First Look At Communication Theory (5th ed.). Boston: Mc Graw-Hill

Miller, Katherine, 2005.  Communication Theories: Perspectives, Processes, and Context.  Boston:McGraw-Hill

Steven W Little John & Karen A, 2008,  Theories of Human Communication, Eight Edition Wadsworth, Thomson Learning Inc. Belmont California

 

 

Be Sociable, Share!
 

Recent Entries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>